20 Sen

TERSEBUTLAH kisah, seorang Imam yang dipanggil ke suatu tempat untuk menjadi Imam di sebuah masjid. Ia pun hendak berangkat ke tempat itu, telah menjadi kebiasaan, Imam tersebut selalu menaiki bus untuk pergi ke masjid.

Pada suatu hari, selepas Imam tersebut membayar tiket dan duduk di dalam bus, dia tersadar saat kondektur bus tersebut memberikan uang kembaliannya.

Namun ternyata uang itu lebih dari yang harus ia bawa, sebanyak 20 sen.
Sepanjang perjalanan Imam tersebut memikirkan tentang uang 20 sen tersebut.

“Perlukah aku mengembalikan uang 20 sen ini?” Imam tersebut bertanya kepada dirinya.

“Ah… pemilik bus ini sudah kaya, rasanya hanya uang sebesar 20 sen tidak akan menjadi masalah. Untuk membeli bensin pun tidak akan cukup,” hati kecilnya berkata-kata.

Sesampainya di masjid, Imam itu pun segera menghentikan bus dengan membunyikan bel. Bus pun berhenti.





Namun, saat akan turun Imam itu merasakan kaku tubuhnya. Seketika itu juga ia berhenti berjalan dan berpaling kepada kondektur bus, sambil mengembalikan uang 20 sen yang tadinya takkan dia kembalikan.

“Tadi, kamu memberikan uang kembalian terlalu banyak kepada saya,” kata Imam kepada kondektur bus.

“Oh, terima kasih! Kenapa dikembalikan pak? padahal uang 20 sen itu sangat kecil nilainya,” tutur kondektur bus.

Sang Imam pun menjawab, “Uang tersebut bukan milik saya, sebagai seorang muslim saya harus berlaku jujur.”

Kondektur bus tersebut tersenyum dan berkata, “Sebenarnya saya sengaja memberi uang kembalian lebih sebanyak 20 sen, saya ingin tahu kejujuran anda wahai Imam.”

Imam tersebut turun dari bus dan seluruh jasadnya menggigil kedinginan. Imam tersebut berdoa sambil menadah tangan,

“Astaghfirullah! Ampunkan aku ya Allah, aku hampir-hampir menjual harga sebuah iman dengan 20 sen.”

Kini, banyak sekali orang yang dengan mudahnya menukar keimanan dengan beberapa bungkus mie atau sedikit beras. Hanya untuk mengenyangkan perut, tanpa mengingat balasan yang akan didapat di dunia ataupun di akhirat.

Banyak orang yang tidak sadar, uang yang dia konsumsi akhirnya akan menjadi nyala api di akhirat kelak. “Sedikit kok,” mungkin begitulah tadinya para petinggi yang menyalahgunakan uang umat.

Tapi akhirnya godaan setan terus memperdengarkan nyanyian neraka lalu tergoda kembali untuk mengambil uang yang bukan haknya sedikit demi sedikit

12 comments:

  1. Mendholimi orang lain, pada hakekatnya mendholimi diri sendiri ...

    ReplyDelete
  2. izin share gan .. terimakasih

    ReplyDelete
  3. godaan akan selalu ada dan kita harus bisa menang darinya.


    silahkan kunjungi : http://bm-mm.blogspot.com untuk berbagi cerita

    ReplyDelete
  4. artikelnya sangat bagus dan inspiratif...
    ijin nyimak dan nitip link ya gan..
    sukses terus untuk blognya....

    http://rentalmobilalamsyah.blogspot.com/
    http://alamsyahgroup.wordpress.com/
    http://jilbabkuu.wordpress.com/

    ReplyDelete
  5. Rasa malu dimana tempatnya ? Malu pada diri sendiri & malu sama Allah.

    ReplyDelete

  6. astaghfirullah......
    cerita diatas menyadarkan aku yg baru saja terjadi saat aku membeli susu jahe hangat dgn uang 10rban tp kembaliannya 17.500.... setelah membaca cerita ini aku langsung saja bergegas mengembalikan uang kelebihan sang penjual kopi... untung saja sang penjual kopi masih ada sedang beres2 untuk pulang....
    maaf ya pak aku telat mengembalikan kelebihannya....

    ya allah.... terima kasih sudah menyadarkan aku.... ampunilah hambamu ini ya allah....
    hhhemmmm.... ngomong2 kmna ya sang penjual kopinya...? gk bialang2 klo mau pulang....
    lanjut mancing lgi lahhh.... mudah2 dpet ikan patin.... hehe... www.ngarep.com

    ReplyDelete
  7. Masya Allah, luar biasa banget ini kisahnya.
    Boleh saya sadur untuk di blog saya gan?

    ReplyDelete