Showing posts with label Allah. Show all posts
Showing posts with label Allah. Show all posts

Anakku, Anak Panahku

“Assalamu’alaikum”, sapaku sore itu ketika pulang dan membuka pintu rumah.

“Bapaaaak.....” teriak Haikal, anak kami semata wayang, dengan terburu-buru tampak mau mengatakan sesuatu.

“Eiiitt... jawab dulu salam bapak Nak”, mengingatkan pentingnya menjawab salam.

“Wa’alaikum salam”, jawabnya dan meneruskan sesuatu yang ingin ia sampaikan, “Besok aku test akselerasi di sekolah.”

“Akselerasi itu apa?” Saya tersenyum sambil bertanya.

“Itu lho, sekolah cepet. Nanti kalau aku ikut kelas akselerasi, aku bisa naik kelas dua kali setahun”, jawabnya dengan antusias.

“Trus Haikal mau ikut akselerasi? Jawab saya sambil berusaha mengetahui maksud dan keinginannya.

“Sebenarnya mau, tapi capek”.

“Kenapa koq capek, kan belum tahu?”

“Habisnya nanti pulang sekolah setiap hari jam 4 sore. Aku kan belum mengerjakan pe-er, belajar, makan, mandi, main, belum lagi sholat”. Jawabnya lancar.

“Ya sudah, besok ikut saja test-nya, terserah Haikal, nanti mau ikut akselerasi atau tidak”. Jawab saya sambil menanamkan artinya sebuah pilihan dan konsekuensi yang akan dihadapinya nanti.

Saya memang tidak pernah memaksakan dirinya untuk belajar terlelu keras. Cukup mengerjakan pekerjaan rumah yang didapat di sekolah dan tempat les yang dia ikuti untuk belajar setiap harinya. Ada lima anak di kelasnya yang dipilih untuk mengikuti test program akselerasi di sekolah, dan dia salah satunya.

Pagi itu ia tampak biasa saja seperti hari-hari biasa, ia bangun dan membereskan tempat tidurnya lalu pergi mandi dan sarapan.
“Sudah siap test akselerasi nanti?”, tanya saya sambil keluar rumah untuk mengantarnya ke sekolah. Ia diam dan bersikap biasa saja. Kalau sudah begini biasanya sudah bisa ditebak kalau sebenarnya ia tidak bersemangat untuk test dan mengikuti kelas akselerasi tersebut.

Sore harinya seperti biasa ia menghampiri untuk mencium tangan saya yang sedang duduk melepas sepatu, “Bagaimana test-nya tadi?” Tanya saya sebelum dia mendahului bercerita.

“Biasa”, jawabnya pendek.

“Bisa mengerjakannya? Terus kapan pengumumannya?” kali ini saya sendiri yang tampak antusias menanggapi jawabannya.

“Yaaaaa... bisa lah...”, seperti biasa dia tidak pernah mengatakan tidak bisa setiap kali ulangan atau ujian kenaikan kelas.

“Pengumumannya dua pekan lagi”, dia melanjutkan jawabannya sambil berlalu.

Dua minggu berlalu ketika saya pulang kerja dia memberikan amplop tertutup, “Apa ini?” saya meminta penjelasannya.

“Pengumuman test akselerasi kemaren.” Jawabnya.





“Lulus?”tanya saya sambil membuka amplop yang ia berikan. Tertulis satu kata “LULUS” dan diikuti dengan syarat-syarat dan ketentuan yang harus disetujui seandainya ia berniat mengikuti program kelas akselerasi yang diadakan pihak sekolah.
Sekali lagi saya bertanya padanya, “Haikal mau ikut kelas akselerasi?” Tampak dia bimbang dan diam. “ya sudah, kalau nggak mau ikut juga ngak apa-apa”. Tampak mukanya sedikit cerah dan menyungging senyuman.

Anakku, engkau adalah amanah yang Allah berikan untuk kami. Tugas kami adalah membekalimu dengan ilmu dunia dan akhirat secara seimbang. Engkau sendiri memiliki keinginan dan ego yang juga harus kami perhatikan pertumbuhannya. Tidak boleh kami berlaku dzalim padamu dengan kedok ingin mendidik, membekalimu dan mengajarimu.

Engkau adalah jiwa yang tumbuh dengan segala “kelebihan” yang Allah berikan padamu. Tugas kami adalah memagarimu dari segala pengaruh buruk dari lingkungan dan budaya yang semakin ter-degradasi.

Tapi engkau tetaplah makhluk yang tumbuh, makhluk yang harus bisa mandiri dan memiliki identitas serta sikap yang jelas saat dia dewasa.

Anakku, engkau adalah anak panah kami. Maafkan bila kami tidak bisa mengarahkanmu pada sasaran yang tepat. Kami selalu berharap agar angin dan burung bisa membantumu menembus sasaran yang tepat di hadapanmu.

Bekasi, 10 Februari 2016
Read More..

Merayakan Kekecewaan

Buatku, perayaan terhadap sebuah kekalahan terbaik dalam dunia sepakbola hanyalah milik suporter Irlandia. Stadion Gdansk, Polandia, menjadi saksi bagaimana kehebatan para suporter Irlandia menyublim kekecewaan mereka, akibat tim kesayangan yang diidamkan luluh-lantak dihantam Spanyol dengan skor tertinggal 4-0.

Pertandingan hanya menyisakan tujuh menit lagi, para Suporter Irlandia sepertinya sadar betul bahwa kekuatan memang tidak berimbang. Tim Spanyol yang berisikan materi bintang pemenang Piala Dunia bukan tandingan untuk para pemain nasional mereka. Disana, aku melihat secara utuh bagaimana sebuah kebanggaan dan dukungan diejawantahkan. Bukan hanya dukungan atas segala kemenangan, melainkan dukungan saat harus merasakan pahit dan tangis bersama.

Aku terkesiap tatkala tiba-tiba sebuah folk ballad berjudul The Fields of Athenry berkumandang dari seisi tribun. Bahkan ternyata bukan hanya aku, para suporter Spanyol, hingga komentator pun menghentikan keriuhan. Lagu bernuansa kepedihan itu terus berkumandang, sementara di tengah lapangan bola, para pemain Irlandia masih berjuang sekuat tenaga untuk setidaknya tidak menderita dengan gol tambahan. Sebuah perayaan terhadap kekecewaan yang dikemas dengan sangat elegan.

The Fields of Athenry, folk ballad ciptaan Pete St. John tahun 70-an, memang mengisahkan cerita pilu tentang seorang lelaki bernama Michael, yang terpaksa mencuri jagung demi memberi makan anak-anak dan istrinya akibat krisis pangan yang parah di Irlandia. Malangnya, Michael tertangkap dan dibuang ke Botany Bay, Australia. Kepada Marry, Sang Istri, Michael mengatakan bahwa tak ada yang membahagiakan hatinya, kecuali melihat istrinya itu membesarkan anak-anak mereka dengan penuh martabat.

Demikianlah lagu pilu ini dinyanyikan oleh para suporter Irlandia, sebagai bentuk kebersamaan, atas kegetiran yang menimpa, atas persamaan nasib yang pedih tak terperikan. Meski harus menanggung kekalahan, mereka menyatakan diri untuk saling memapah dalam kebersamaan.

Nun jauh dari Gdansk, aku juga melihat perayaan kekalahan yang sangat menyejukan, bahkan mengharukan, dari seorang lelaki berusia senja. Pak Maridi namanya. Sejatinya ia lelaki istimewa, lelaki satu kampung kami tak ada yang mampu menandinginya dalam soal kehadiran di Surau untuk mendirikan Sholat. Selalu lebih cepat dari yang lain, serta pulang selalu lebih lambat dari jamaah lainnya juga.





Namun memang, tingginya kuantitas dan kualitas ibadah tak serta merta seiring dengan perbaikan pada sisi ekonomi. Begitu juga dengan kondisi keuangan Pak Maridi. Mungkin itu pula ujian dari Allah swt untuknya. Di usia yang menginjak tujuh dasawarsa, hari-harinya diisi dengan bekerja serabutan. Kadang bekerja sebagai kuli bangunan, kadang hanya menjadi buruh di ladang warga untuk sekedar menyiangi rerumputan dan benalu. Kehidupan keluarganya memang tidak dapat dikatakan miris, namun tetap saja, taraf kehidupannya tak bisa dikatakan cukup.

"Kekalahan" Pak Maridi adalah saat Surau kami akan melakukan renovasi. Sejatinya ia berharap dapat dilibatkan dalam pembangunan itu, "minimal liber (pembantu tukang)-lah. Buat membantu biaya dapur," katanya padaku.

Namun apa mau dikata, keputusan rapat pembangunan mengatakan bahwa tukang dan pembantunya dibawa dari luar dengan status borongan. Jadi tidak satu pun yang terlibat dalam proses pembangunan ini dari warga kami, kecuali para Pengurus Surau sebagai pemantau.

Betapa kecewanya Pak Maridi, Surau yang setidaknya lima waktu dalam sehari ia kunjungi, justru para Pengurusnya tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk turut bekerja. Bahkan pernah satu kali aku bertanya kepada Ketua Pembangunan dan memintanya mempekerjakan Pak Maridi. "Terlalu sepuh, Kang. Kasihan," demikian jawabnya.

Ketika hasil usahaku kusampaikan kepada Pak Maridi, ia termangu. Tampak sekali raut kecewa dari wajahnya. Aku menangkap ada luka, sebongkah perasaan tidak puas menguasai dadanya. Ia menunduk bermuram durja.

Aku sedikit menerka-nerka apa yang akan dilakukannya beberapa hari ke depan. Bisa saja kekecewaan membawanya pindah Sholat ke Masjid lain, atau bahkan, bisa jadi ia memilih mundur dari Surau, mendirikan Sholat di rumahnya sendiri, dalam ruang kamarnya yang sepi.

Dugaanku ternyata meleset. Suatu malam menjelang pagi, ketika waktu baru menunjukan pukul 04.15. Kudengar lapat lantunan bacaan Al Qur'an diperdengarkan. Rasa kepenasaranku memuncak, bergegas aku menuju Surau, kujumpai Pak Maridi sedang bersila menghadap mushaf Al Qur'an yang diletakan di atas meja.

"Gasik (cepat datang), Pak," ucapku berbasa basi setelah ia mengakhiri bacaannya.

"Iyo, Kang. Semoga bisa bersyukur atas nikmat Allah swt," ungkapnya.

Aku termenung. Bukankah baru kemarin sore lelaki ini merasakan "luka" yang teramat dalam? Bukankah baru kemarin sore ia merasakan "kekalahan" yang mengecewakan? Ah, sepagi ini dia sudah hadir di Surau, berkata tentang syukur pula kepada Allah swt.

Luar biasa! Pak Maridi bagiku merupakan orang yang sangat cerdas dalam merayakan sebuah kekecewaan. Ia menyublim segala getir jiwanya ke dalam dzikir-dzikir panjang. Ia mengobati luka hatinya dalam balut lantunan Al Qur'an. Tak ada kalimat satir dari mulutnya, tak ada tindakan emosional yang ia tunjukan. Pak Maridi, lelaki kecil itu menjelma menjadi besar di hadapanku. Bukan besar dalam arti ragawi, melainkan besar dalam bentuk jiwa yang terang dan tenang.

Perlahan, kembali dalam ingatanku koor panjang The Fields of Athenry di Gdansk Stadium dari para suporter Irlandia. Disini, di tanahku, aku menemukan persamaannya. Sebuah persamaan tentang bagaimana cara merayakan kekecewaan.

Lapat tergurat dalam ingatanku sebait syair berbunyi, "Low lie the fields of athenry, where once we watched the small free birds fly, Our love was on the wing, We had dreams and songs to sing, It's so lonely round the fields of athenry.... ". Sebuah syair tentang pesan terakhir Michael kepada anak dan istrinya, syair pilu... The Fields of Athenry yang kini lekat dalam bayang Pak Maridi. (*)

**
TULISAN Kang Ewa
Petropolis, 30 Desember 2015

Read More..

Bila Allah Menghendaki

Dalam Khutbah Jum'at di sebuah kota kecil, seorang khotib berbicara tentang pentingnya mengatakan "In Shaa Allah" (yang berarti Bila Allah Menghendaki) ketika merencanakan untuk melakukan sesuatu di masa depan.

Setelah beberapa hari, seorang pria yang juga menghadiri Khutbah bermaksud akan membeli seekor sapi dari pasar. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan seorang teman yang kemudian bertanya kemana ia pergi. Dia bercerita bahwa ia akan membeli sapi tetapi tidak mengatakan Insya Allah. Temannya mengingatkannya tentang Khutbah dan menyuruhnya mengatakan In Shaa Allah. Namun, pria ini mengatakan bahwa ia memiliki uang yang cukup dan tenaga untuk pergi ke pasar, dengan demikian, tidak ada gunanya mengatakan In Shaa Allah karena ia pasti akan membeli sapi. Dia berpikir bahwa mengatakan In Shaa Allah atau tidak maka tidak akan ada bedanya.

Ketika sampai pasar, ia menemukan sapi yang memenuhi harapan nya. Diapun melakukan tawar-menawar dengan penjual dan sampailah kesepakatan pada harga yang wajar. Akhirnya, ia memutuskan untuk membayar sapi tersebut. Tapi tercenganglah ia ketika menyadari bahwa semua uangnya hilang. Seorang copet telah mencuri uang saat ia sedang berjalan melalui pasar yang sibuk.





Penjual sapi bertanya kepadanya apakah ia akan membeli sapi atau tidak. "In Shaa Allah, saya akan membelinya minggu depan," katanya.

Ketika sampai di rumah, istrinya bertanya tentang sapi yang bermaksud ia beli. Dan dia bercerita tentang bagaimana ia lupa mengatakan In Shaa Allah,dan juga menambahkan, "In Shaa Allah, saya ingin membeli sapi. Tapi In Shaa Allah, uang saya dicuri. In Shaa Allah, saya akan membelinya minggu depan."

Sembari bercerita, istrinya selalu menekankan kepadanya bahwa kami harus mengatakan In Shaa Allah untuk hal-hal yang belum terjadi, bukan untuk hal-hal yang sudah terjadi.

Kejadian ini diceritakan oleh Shaikh Wahidullah dari Toronto, Kanada.

Read More..

Pilihan Aliya

Sembilan tahun lalu, saya berdansa bersama putri saya yang baru lahir di ruang tamu saya di North Carolina mengikuti music Free to Be… You and Me, sebuah lagu anak klasik tahun 70-an yang lirik penuh pesan toleransi dan kesetaraan jendernya saya hapal betul karena tumbuh besar di California.

Suami saya yang kelahiran Libya, Ismail, duduk bersamanya selama berjam-jam di teras berkawat nyamuk kami, mengayunnya di atas sebuah ayunan besi berkeriat-keriut dan menyanyikannya lagu-lagu rakyat Arab, lalu membawanya ke seorang syekh Muslim yang membacakan doa panjang umur ke telinga kecilnya yang lembut.


Ia memiliki mata gelap dan bulu mata hitam seperti ayahnya, dan kulit coklatnya cepat sekali menjadi semakin gelap di bawah terik matahari musim panas. Kami menamainya Aliya, yang bermakna ‘dimuliakan’ dalam bahasa Arab, dan sepakat akan membiarkannya memilih yang paling cocok di antara latar belakang kami yang sangat berbeda.

Diam-diam saya berpuas diri atas kesepakatan ini – yakin putri saya akan cenderung mengikuti gaya hidup Amerika saya yang nyaman dibandingkan asuhan ayahnya yang sederhana. Orangtua Ismail tinggal di sebuah batu kecil di gang-gang tanah berliku di luar Tripoli, Libya. Tembok-temboknya kosong, hanya berhiaskan ayat Qur’an yang dipahat ke kayu; lantainya kosong, hanya ada alas duduk tipis yang juga digunakan sebagai alas tidur.

Orangtua saya tinggal di sebuah rumah megah di Santa Fe, New Mexico, lengkap dengan garasi berkapasitas tiga mobil, televisi layar datar dengan ratusan saluran, makanan organik di kulkas, dan selemari penuh mainan untuk para cucu.





Saya membayangkan Aliya akan berbelanja ke Whole Foods dan mempersiapkan tumpukan hadiah di bawah pohon Natal, sambil tetap menikmati melodi Arab, baklava berlumur madu buatan tangan Ismail, dan tato henna rumit yang digambarkan tantenya di kaki saat kami mengunjungi Libya. Tidak sekalipun saya pernah membayangkan ia jatuh hati pada penutup kepala yang dikenakan para gadis Muslim sebagai ekspresi kesantunan.

Musim panas lalu, kami sedang merayakan berakhirnya Ramadhan bersama komunitas Muslim di sebuah festival yang diadakan di tempat parkir mobil masjid setempat. Anak-anak melompat-lompat di dalam rumah balon, sementara para orangtua duduk di bawah lindungan terpal, sambil mengusir lalat dari berpiring-piring ayam kari, nasi, dan baklava.

Saya dan Aliya berjalan-jalan melewati berbagai penjual sajadah, tato henna, dan busana Muslim. Saat mencapai sebuah meja yang memajang penutup kepala, Aliya berbalik ke arah saya dan memohon, ‘Bu, saya boleh beli satu ya?’ Ia memilih-milih di antara tumpukan kerudung yang terlipat rapi sementara penjualnya, seorang wanita Afrika-Amerika berbalut busana hitam, berseri-seri memandang Aliya.

Baru-baru ini saya melihat Aliya melemparkan tatapan kagum pada gadis-gadis Muslim seusianya. Diam-diam saya mengasihani mereka, yang terbungkus rok yang menyapu lantai dan lengan panjang, bahkan pada hari-hari terpanas. Kenangan masa kecil terbaik saya adalah saat berjemur di bawah matahari: merasakan rerumputan di antara jemari saat berlarian di bawah siraman air di halaman depan; mencelupkan kaki di sungai yang dingin di Idaho, celana pendek tergulung hingga paha, untuk menangkap ikan forel pelangi pertama saya; berselancar di atas ombak hijau di tepi pantai Hawaii. Namun Aliya justru iri pada gadis-gadis ini dan sudah meminta saya membelikannya pakaian seperti mereka. Dan kini, ia meminta selembar kerudung.

Sebelumnya, saya akan beralasan sulit mencari kerudung, tetapi kini ia mengatakan akan membelanjakan uang saku $10-nya untuk membeli selembar kain rayon hijau tua yang ia genggam. Saya sudah mulai menggelengkan kepala, tetapi kemudian menghentikan diri dan mengingat komitmen saya pada Ismail. Jadi saya menahan diri dan membelinya, seraya berpikir ia akan segera melupakan kain tersebut.

Siang itu, saat saya akan berangkat ke supermarket, Aliya berseru dari dalam kamar mengatakan bahwa ia ingin ikut.

Beberapa saat kemudian ia muncul di puncak tangga – atau, lebih tepatnya, setengah dirinya muncul di puncak tangga. Dari pinggang ke bawah, ia adalah putri saya: sepatu kets, kaus kaki terang, celana jins yang agak belel di bagian lutut. Namun dari pinggang ke atas, ia adalah orang asing.

Wajah bulat cerahnya muncul di antara kain gelap seperti bulan di langit tanpa bintang.

‘Kamu mau pakai itu?’

‘Iya,’ sahutnya perlahan, dengan nada yang mulai ia gunakan terhadap saya belakangan ini.

Dalam perjalanan ke supermarket, saya mencuri pandang ke arahnya melalui spion tengah. Ia memandang ke luar jendela, tampak sibuk dengan pikirannya sendiri dan tidak peduli dengan sekitarnya, seakan ia adalah seorang pembesar Muslim yang sedang mengunjungi kota kecil kami di bagian Selatan – saya hanyalah supirnya.

Saya menggigit bibir. Saya ingin memintanya melepaskan penutup kepalanya sebelum keluar dari mobil, tetapi tidak bisa menemukan satupun alasan mengapa, kecuali bahwa kain tersebut membuat tekanan darah saya naik. Saya selalu mendorongnya untuk mengekspresikan individualitasnya dan bertahan dari tekanan pergaulan, tetapi kini saya merasa sama minder dan sesaknya seakan sayalah yang mengenakan kerudung tersebut.

Di tempat parkir supermarket, udara musim panas yang pekat menyergap kulit saya. Saya mengekor kuda rambut lembab saya, tetapi Aliya tampak tidak sadar akan panasnya. Kami pasti terlihat seperti aneh berdua: wanita tinggi berambut pirang dalam balutan baju kutung dan jins menggenggam tangan seorang Muslim setinggi 1,2 m. Saya menarik putri saya mendekat dan kulit di lengan telanjang saya merinding – baik karena rasa protektif juga hantaman utara berpendingin saat memasuki toko.

Saat kami membawa troli menjelajah lorong-lorong tempat belanja, pengunjung lain menatap kami seakan kami adalah teka-teki yang tidak bisa mereka pecahkan, dan buru-buru memalingkan muka saat saya menangkap tatapan mereka.

Di lorong bahan makanan, seorang wanita yang sedang meraih sebuah apel memberi saya senyum khawatir yang terlalu riang, yang bermakna: ‘Saya menerima perbedaan dan tidak bermasalah dengan anak Anda.’ Ia terlihat sangat bersungguh-sungguh, begitu berhasrat membuat saya merasa nyaman, hingga tiba-tiba saya memahami bagaimana rasanya memiliki anak dengan difabilitas yang jelas, dan semua rasa penasaran atau simpati orang asing yang tidak diinginkan yang timbul karenanya.

Di kasir, seorang wanita Selatan paruh baya menyatukan kedua tangan kurusnya dan membungkuk perlahan ke arah Aliya.

‘Wah, wah,’ gumamnya sambil menggelengkan kepala penuh ketidakpercayaan. ‘Kamu terlihat sangat manis!’ Putri saya tersenyum sopan, kemudian berbalik ke arah saya untuk meminta sebungkus permen karet.

Pada hari-hari selanjutnya, Aliya mengenakan kerudungnya untuk sarapan sambil masih mengenakan piyama, untuk pergi ke acara kumpul-kumpul Muslim di mana ia dibanjiri pujian, dan untuk ke taman, tempat para ibu berbincang dengan saya penuh kehati-hatian, berusaha tidak membicarakan kerudungnya.

Belakangan di pekan yang sama, di kolam renang setempat, saya memperhatikan seorang anak perempuan yang sedikit lebih tua daripada Aliya bermain tenis meja dengan seorang anak lelaki seusia. Ia sedang berada dalam masa canggung antara masa kanak-kanak dan remaja – pinggul kecil, kaki kurus, payudara yang tumbuh samar – dan ia mengenakan bikini tali.

Lawannya mengenakan kaus dan celana pendek kebesaran yang jatuh di bawah lututnya. Saat si anak lelaki memukul bola, si anak perempuan mengejarnya sambil berusaha, dengan satu tangan, menjaga tali licin spandeksnya agar tidak melorot. Saya ingin menawarkan handuk untuk membungkus bagian bawah tubuhnya agar ia bisa berkonsentrasi dalam permainan dan merasakan kesenangan membuat pukulan yang sempurna.

Mudah saja mengetahui mengapa ia bisa dihabisi dalam permainan ini: tubuhnya yang hampir telanjang menguasai fokusnya. Dan pada ekspresi kerepotannya saya mengenali campuran akrab rasa malu dan semangat yang saya rasakan saat pertama kali mengenakan bikini.

Pada usia 14 tahun, saya berjalan di lorong-lorong sekolah menengah seperti tupai dalam lalu lintas: menempel ke dinding, mengubah arah tiba-tiba, mencari perlindungan. Kemudian saya pergi ke Los Angeles untuk mengunjungi Tante Mary pada libur musim dingin. Mary mengoleksi putri duyung, menyimpan foto hitam putih guru India-nya yang berambut panjang, dan berbelanja di toko makanan sehat kecil yang beraroma nilam dan selai kacang. Ia mengajak saya ke Pantai Venice, di mana saya membeli bikini murah dari penjual jalanan.

Dipenuhi semangat menyambut siang yang cerah, saya kira saya bisa jadi orang lain – dengan tubuh mengkilap dan bangga seperti binaragawan di kebun, santai dan tidak acuh seperti para hippy yang bersantai di jalan setapak dengan dupa menyala terselip di belakang telinga. Di kamar mandi tepi pantai berlantai semen berpasir, saya berganti mengenakan pakaian renang baru.

Saya merasa seluruh tubuh saya merinding; saya merasa tidak berdaya dan tidak terlindungi seperti seekor kura-kura yang dikeluarkan dari cangkangnya. Dan saat meninggalkan kamar mandi, pandangan para pria terasa menahan saya di satu titik.

Terlepas dari rasa aneh dan malu yang semakin besar, saya terpaku pada cengiran mereka; saya merasa menemukan kunci penting misteri diri dalam ekspresi mereka. Apa yang dilihat para pria ini pada saya? Kekuatan aneh apa ini yang ada antara kami, yang dengan cepat membuat saya merasa bekuasa satu detik dan begitu rapuh di detik berikutnya?

Saya membayangkan Aliya dalam balutan bikini tali beberapa tahun lagi. Kemudian saya membayangkannya dalam balutan busana Muslim. Sulit mengatakan mana yang lebih tidak mengenakkan. Kemudian saya memikirkan sesuatu yang pernah dikatakan seorang teman Muslim Sufi: Sufi meyakini bahwa inti diri kita memancar keluar tubuh fisik kita – bahwa kita memiliki semacam kulit kedua yang energik, yang sensitif dan dapat menyerap orang-orang yang kita temui. Pria dan wanita Muslim mengenakan busana santun, ujarnya, untuk melindungi ruang bertenaga antara mereka dan dunia ini.

Tumbuh besar di California Selatan pada tahun 70-an, saya belajar bahwa kebebasan bagi wanita artinya, antara lain, lebih sedikit bahan, dan bahwa wanita bisa jadi apapun – dan masih terlihat bagus dalam balutan bikini. Menjelajahi kebebasan fisik adalah bagian penting dalam penemuan jati diri saya, tetapi memiliki nilai tersendiri.

Sejak hari itu di Pantai Venice, saya menghabiskan bertahun-tahun belajar berenang dalam pusaran daya tarik: menginginkan rasa diidamkan, menolak pendekatan yang tidak diinginkan, menggali kedalaman misterius kerinduan saya sendiri. Saya menghabiskan berjam-jam memperhatikan pantulan diri sendiri di cermin – mengaguminya, membencinya, mengira-ngira apa yang orang lain pikirkan tentangnya – dan terkadang saya berpikir jika saja saya melakukan pengamatan menyeluruh yang sama terhadap subyek lain, saya bisa tercerahkan, menulis novel, atau setidaknya mengetahui cara membuat kebun sayur organik.

Pada suatu Sabtu pagi baru-baru ini, di dalam sebuah ruang ganti pusat perbelanjaan yang penuh sesak, saya mencoba jins buatan desainer bersama mahasiswi bersepatu hak tinggi runcing, ibu-ibu muda dengan bayi yang rewel, wanita paruh baya dengan bibir mengkilap yang mengerucut. Satu demi satu kami memasuki ruang ganti, kemudian berbaris untuk mendapat giliran berdiri di atas alas, dikelilingi cermin, menekuk pinggul dan menahan perut serta menjulurkan leher untuk memandangi bokong kita.

Saat giliran saya tiba, hati saya merasa berat. Wajah saya terlihat pucat di bawah cahaya lampu, dan tiba-tiba saya merasa kelelahan atas tahun-tahun yang saya habiskan mengejar setitik perbaikan diri, sambil membawa-bawa kritik tajam pada diri sendiri.

Saat ini, Aliya memiliki ketertarikan mendalam terhadap dunia di sekitarnya, bukan pada apa yang dilihatnya di cermin. Musim panas lalu ia berdiri di tepi Blue Ridge Parkway, memandang ke garis biru hitam pegunungan di kejauhan dengan puncak digayuti awan kapas, dan terkesiap. ‘Ini adalah hal terindah yang pernah saya lihat,’ bisiknya. Matanya yang terbuka lebar adalah cerminan keindahan di hadapannya, dan ia berdiri begitu diam hingga terlihat bersatu dengan lansekap nan luas, hingga akhirnya kami memecahkan lamunannya dengan menariknya kembali ke mobil.

Lain lagi di sekolah. Di kelas empat, anak-anak perempuan seusianya telah menghubungkan busana dengan popularitas. Beberapa pekan lalu, dengan penuh kemarahan ia bercerita tentang seorang teman sekelasnya yang mengukur semua anak perempuan di kelas berdasarkan betapa bergayanya mereka.

Saat itu saya paham bahwa meski paparan fisik telah memerdekakan saya dalam beberapa hal, Aliya bisa saja menemukan jenis kebebasan yang sama sekali berbeda dengan memilih menutupi tubuhnya.

Saya tidak tahu berapa lama ketertarikan Aliya pada busana Muslim akan bertahan. Jika ia memilih untuk memeluk Islam, saya yakin keyakinannya akan mengajarinya toleransi, kerendahan hati, dan rasa keadilan – sebagaimana yang agama tersebut ajarkan pada ayahnya. Dan karena saya memiliki hasrat kuat untuk melindunginya, saya juga akan mengkhawatirkan kalau-kalau pilihannya membuat hidupnya sulit di negaranya sendiri. Baru-baru ini ia menghapal fatihah, ayat pembukaan di Qur’an, dan ia menekan ayahnya untuk mengajarinya bahasa Arab. Ia juga menjelma menjadi pesepeda gunung yang gesit yang bersepeda bersama saya di jalur-jalur hutan, dengan lumpur memenuhi betisnya saat bersepeda melintasi anak sungai besar.

Sebelumnya saat saya mengantarnya ke sekolah, bukannya buru-buru pergi seperti biasanya, saya memperhatikannya berjalan di antara kerumunan anak-anak, punggung membungkuk karena berat ranselnya membuatnya terlihat sedang menerjang badai. Ia bergerak penuh kepastian, dalam kesendiriannya, sangat berbeda dengan saya saat seusianya, dan sekali lagi saya menyadari betapa misteriusnya ia bagi saya.

Bukan hanya penutup kepalanya yang membuatnya misterius: tetapi juga ketidakpeduliannya akan pendapat orang tentangnya. Juga ketika saya menemukan tumpukan permen Halloween yang tidak tersentuh di lacinya, padahal saat kecil saya terobsesi pada permen. Juga kenyataan bahwa ia lebih memilih menyelam ke dalam sebuah buku daripada ke laut; bahwa ia begitu terpikat pada bacaannya hingga tidak bisa mendengar saya memanggil dari kamar sebelah.

Saya melihatnya berlutut di pintu masuk sekolahnya dan menarik selembar kain yang terlipat rapi dari kantung depan tasnya, sementara anak-anak lain memasukkan permen karet atau pengilap bibir. Kemudian ia memasang kain tersebut di kepalanya, dan pundaknya tersembunyi di balik kain seperti jubah yang digunakan adiknya saat berpura-pura menjadi pahlawan super.

Saya membayangkan kerudung itu memiliki kekuatan ajab untuk melindungi imajinasinya yang tanpa batas, persepsinya yang tajam, dan kebaikannya yang tanpa batas. Saya membayangkan kerudung itu membentenginya dalam perjalanan melintasi rumah kaca tempat di mana banyak wanita muda terperangkap dalam keremajaan, menjaganya dari ketidakpuasan, tidak peduli sebanyak apapun pilihan yang kita punya, memberinya perlindungan saat ia menggapai masa depan yang tidak saya ketahui.

-----------------------------------------------------------
Penulis Amerika penerima penghargaan Krista Bremer menikah dengan seorang Muslim kelahiran Libya. Esai pribadi yang ditulis secara tajam berasal dari hatinya dan disampaikan dengan pemikiran terbuka yang cerdas dalam gaya santai yang memerangkap pembaca di seluruh dunia. Cuplikan kehidupan bikulturnya juga membuatnya memiliki penggemar di kalangan Muslim yang memahami cobaan dan kebahagiaan yang Krista, simbol wanita urban – percaya diri, sukses, toleran, kuat, dan cerdas – hadapi dalam kesehariannya bersinggungan dengan Islam dan kehidupan modern. Ia penerima penghargaan Pushcart Prize 2008 dan Rona Jaffe Foundation Writers’ Award 2009, seorang rekan penerbit di majalah sastra The Sun, dan sedang menulis memoir pernikahan bikulturnya.

Artikel ini pertama kali terbit di majalah Aquila Style edisi September/Oktober 2011



Read More..

Terdampar Di Pulau Terasing

Syahdan seorang pria berhasil selamat dalam sebuah kecelakaan kapal di tengah samudera yang luas. Dengan sebuah bongkahan kayu pecahan kapal dia berhasil menepi ke sebuah pulau kecil terasing yang tidak dihuni oleh satu orangpun.

Dalam keputusasaannya ia berdoa dengan sangat dan memohon kepada Allah untuk dapat menyelamatkannya dari pulau tersebut. Setiap hari dia memandangi cakrawala berharap ada sebuah kapal yang datang dan menyelamatkannya.

Lelah dan putus harapan, akhirnya ia mencoba untuk hidup dan mempertahankan diri dengan membuat gubuk dan pondok kecil untuk berlindung dan mulai mencoba bertahan hidup. Setelah beberapa lama ia mulai terbiasa hidup sendiri di pulau tersebut.

Suatu hari ia mencoba berburu di hutan di belakang pantai mencoba mencari hewan buruan yang sekiranya dapat dimakan. Setelah lelah seharian berburu, ia kembali ke pondok yang telah dihuninya selama beberapa waktu. Tapi alangkah terkejutnya ketia ia mendapati gubuknya telah rata dengan tanah, terbakar habis. yang tersisa hanyalah api dan asap pekat yang membubung tinggi. Apa yang telah diusahakannya selama terdampar dan tinggal di pulau tersebut habis tak bersisa. Alam hatinya ia mulai marah dan putus asa.

"Ya Allah, mengapa Engkau timpakan ini semua padaku!" jeritnya sambil menyalahkan Allah atas musibah tersebut. Dan malam itu ia lewatkan dengan tidur di alam terbuka dekat gubuk yang terbakar tersebut.

Hari berikutnya ia terbangun dari tidurnya oleh suara kapal yang perlahan mendekat ke pulau tersebut. Perahu tersebut menurunkan sebuah sekoci yang segera merapat ke pulau terpencil tersebut. Tampaknya perahu tersebut tahu bahwa ada orang di pulau tersebut.

"Bagaimana kau tahu di sini ada orang yang perlu pertolongan?" tanyanya pada penumpang sekoci tersebut.

"Kami melihat tanda asap yang engkau nyalakan", jawabnya.

Hikmah dan pelajaran:

Sangat mudah kita berputus harapan dan menyalahkan Allah atas semua hal buruk yang menimpa kita. Padahal sesungguhnya Allah bekerja dan memberi jalan terbaik, meskipun tampak menyakitkan dan menyedihkan. Ingatlah, suatu ketika engkau tertimpa hal buruk, mungkin menjadi tanda bahwa Allah sekali lagi akan menunjukkan kasih dan sayangnya.


Read More..

Perumpamaan Ampunan Allah

Aisyah namanya, ia masih berusia tujuh tahun. Tahun ini adalah tahun pertamanya di sekolah dasar. Prestasinya biasa saja karena kami tidak ingin memaksanya belajar setiap kali ulangan atau tes evaluasi belajar. Meski begitu ia putri yang pandai menurut saya karena seringnya ia membuka pembicaraan dengan topik yang mungkin tidak pernah kita duga.

Sore itu saya mengendarai mobil untuk menjamput istri dari tempat kerjanya. Ditemani putri kecil kami tersebut saya mngendarai mobil menembus hujan yang cukup deras sore itu turun. Saya harus tetap fokus mengemudi mengingat banyak bagian jalan menjadi tergenang dan sedikit licin.


Setelah sekian lama Aisyah diam sambil menikmati hujan dalam perjalanan kami, tiba-tiba ia sedikit mengagetkan fokus saya pada kemudi, memecah keheningan sore itu.

“Ayah, aku sedang memikirkan sesuatu...”

Biasanya jika sedang seperti itu maka selanjutnya ia akan bercerita. Sambil sedikit melambatkan laju kendaraan saya menjawab pembicaraannya, “Ada apa nak, apa yang kamu pikirkan?”





“Hujan.” Jawabnya. “Hujan ini seperti dosa-dosa kita.”

“Kenapa kau berpikir seperti itu. Bukankah hujan adalah rahmat dari Allah?”

“Betul Ayah, tapi itu seperti perumpamaan dosa-dosa kita. Dan wiper (penghapus air hujan) di kaca itu seperti ampunan Allah.”

Sedikit kaget bercampur dengan keingintahuan, saya melanjutkan pembicaraan tersebut dengan bertanya, “Lalu apa yang kamu maksud dengan wiper ini, apa maksudnya?”

Tanpa ragu-ragu ia menjawab dengan nada datar tapi terdengar tegas, “Kita terus berbuat dosa dan Allah terus datang menghapusnya dengan ampunan.”

“Kamu benar nak, Allah akan selalu menerima taubat dan ampunan hambaNya tak perduli seberapa besar dan seberapa sering dosa itu terjadi, Allah akan selalu mengampuni, selama nafas kita belum sampai di tenggorokan. Itulah tanda bahwa Allah sangat sayang pada kita”

Dua buah ayat yang pasti akan saya tunjukkan padanya sesampai di rumah.

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa’: 110).


Dan setiap kali hujan saya selalu mengingat percakapan dengan anak kami tersebut saat menghidupkan wiper kaca mobil. Terima kasih Ya Allah yang telah memberikan putri kecil kami ke-faham-an dan kehalusan tutur katanya.


Read More..

Saling Mencintai Karena Allah

Seorang isteri menangis ketika memandikan jenazah suaminya .. sambil menangis isteri berkata, " Inilah janji kami sebagai suami isteri... Jika abang pergi lebih dulu maka engkaulah yang memandikan jenazah abang, Andai engkau yang pergi dulu dari abang, abang yang akan memandikan jenazahmu..."

Dari luar kamar jenasah rumah sakit, seorang ustadz masuk dan bertanya apakah istrinya mau memandikan jenazah suaminya... ustadz tersebut kemudian bersama beberapa orang menemani si isteri memandikan jenazah suaminya.

Dengan tenang isteri membasuh muka suaminya sambil berdoa, "Inilah wajah suami yang ku sayang tetapi Allah lebih sayang padamu... Wahai suamiku... Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu dan menyatukan kita di akhirat nanti..."

Saat membasuh tangan jenazah suaminya sambil berkata... "Tangan inilah yang mencari rezeki yang halal untuk kami, masuk ke mulut kami... semoga Allah beri pahala untukmu wahai suamiku..."

Saat membasuh tubuh jenazah suaminya, iapun berkata... "Tubuh inilah yang memberi pelukan kasih sayang padaku dan anak-anakku..., semoga Allah beri pahala yang berlipat-berganda untukmu wahai suamiku ..."





Kemudian saat membasuh kaki jenazah suaminya, kembali ia berkata... "Dengan kaki ini engkau keluar rumah mencari rezeki untuk kami, berjalan dan berdiri sepanjang hari semata-mata untuk mencari sesuap nasi, terima kasih suamiku... semoga Allah memberimu kenikmatan hidup di akhirat dan pahala yang berlipat kali ganda..."

Selesai memandikan jenazah suaminya, si isteri mengecup sayu suaminya dan berkata... "Terima kasih suamiku... karena aku bahagia sepanjang menjadi isterimu dan terlalu bahagia... dan terima kasih karena meninggalkan aku bersama permata hatimu yang persis dirimu... dan aku sebagai seorang istri ridha akan kepergianmu karena kasih sayang Allah kepadamu..."

Subhanallah... Indahnya saling mencintai karena Allah... meskipun terpisah sementara di dunia tiada sesal karena yakin bahwa Allah akan mempersatukan kembali di akhirat.

Semoga Allah merahmati setiap pasangan suami-istri dan keluarga yang saling sayang-menyayangi dan mencintai karena Allah Ta'ala, aamiin yaa rabbal alamien.

Read More..

Indah Pada Waktunya


Indah namanya , umurnya genap enam tahun. Kulitnya putih dengan rambut hitam tergerai panjang. Indah memang cantik, dan hatinya jauh lebih cantik. Indah dibesarkan dengan kasih sayang, dengan kepercayaan, dan dengan teladan yang baik dari kedua orangtuanya. Bu Mila dan Pak Faisal memang membesarkan Indah dengan penuh kasih sayang namun tidak berlebihan. Sejak kecil Indah dididik untuk memegang teguh komitmen yang dibuat. Janji adalah janji, sebisa mungkin harus ditepati.

Segala sesuatu yang dimulai dengan kebohongan akan berakhir dengan kebohongan. Sesuatu yang dimulai dengan kecurangan akan berakhir dengan kegagalan. Sesuatu yang dimulai dengan kesombongan akan berakhir dengan kehancuran. Sebaliknya sesuatu yang dimulai dengan niat baik dan ketulusan akan berakhir dengan kebahagiaan.

Hari ini Indah ulang tahun, Bu Mila dan Pak Faisal memang tidak pernah merayakan ulang tahun Indah dengan pesta yang mewah. Cukup syukuran kecil-kecilan di rumah. Namun tidak seperti biasanya, kali ini Indah minta hadiah. “Umi, beliin Indah kaus kaki renda ya... punya temen Indah baguuuss deh... ada coraknya...”, ujar indah dengan penuh harap, begitu halus intonasinya sebenarnya Bu Mila tak sanggup menolak, tapi apapun yang terjadi, komitmen harus dipertahankan..

“Boleh, nanti Indah ikut Umi ke Swalayan ya, kita beli disana aja. tapi Indah mesti janji, nggak boleh minta apa-apa lagi.” ujar bu Mila penuh kasih. “Makasi ya Umi, Indah janji nggak akan minta apa-apa lagi, kaus kaki itu sudah cukup buat Indah.”. Sesuai janji, sore itu Bu Mila mengajak Indah ke Swalayan dekat rumah. Nggak perlu waktu lama bagi indah untuk menemukan kaus kakinya. Tapi ceritanya jadi lain saat Indah melihat kalung mutiara plastik di etalase kios asesoris kecantikan.

Kalung itu sungguh menarik, warnanya putih mengkilap seperti kalung mutiara sungguhan. Indah bingung, Ia terlanjur janji tidak akan minta apa-apa lagi. tapi kalung itu begitu menarik baginya. Indah tidak sanggup menahan hasrat untuk memiliki kalung itu. Lidahnya kelu, ia malu, tapi desakan itu kian kuat. akhirnya dengan terbata-bata, Indah berkata “Umi maafin Indah ya.. Indah nggak jadi beli kaus kaki renda, Indah mau kalung itu. tapi kalo nggak boleh, nggak apa-apa Indah nggak maksa, maafin Indah ya Umi, tapi indah mau kalungnya..” ujar Indah.

Sebenarnya Bu Mila bisa saja membelikan keduanya sekaligus, namun Indah tetap harus memegang komitmen yang dibuat. “Indah boleh beli kalungnya, tapi kaus kakinya nggak jadi ya? Karena harganya lebih mahal, Umi akan potong sisanya dari tabungan Indah minggu ini. Gimana, Indah setuju?” . “Setuju Umi, nggak apa-apa deh nggak pake kaus kaki renda juga yang penting pake kalung mutiara, hehe... makasi ya Umi... Umi baik deh...”

Akhirnya Bu Mila membelinya dan Indah segera memakainya. Indah semakin terlihat cantik, wajahnya merona ceria sekali. Kalung itu jadi mainan kesayangan Indah, tiap hari selalu dipakainya. Indah sering cerita pada Bu Mila dan Pak Faisal, betapa sayangnya Ia pada kalung mutiaranya. Tidak terasa sebulan telah berlalu, dan Indah semakin tidak bisa berpisah dengan kalung mutiaranya. Kemanapun Indah pergi, kalung itu selalu menempel di lehernya, membuat Indah semakin tampak cantik dan menggemaskan.

Malam itu seperti biasa, Pak Faisal membacakan dongeng sebelum Indah tidur. menjelang akhir kisahnya, Pak Faisal mengajukan sebuah pertanyaan pada Indah. “Indah..., Indah sayang sama Ayah?” . “Tentu dong yah, Indah sayaaang sama ayah, sama Umi juga... kenapa...?” . “Kalo Indah sayang sama Ayah..., Kalungnya buat Ayah ya...?” . “Ya… Ayah, jangan dong yah... Ayah boleh ambil boneka kancil punya Indah, atau si Twingky... atau si Tweety... tapi jangan kalung ini yah...” ujar Indah memelas. “Ya udah... nggak apa-apa... Ayah ngerti kok” , ujar Pak Faisal bijak.

Esok malamnya, di akhir ceritanya, Pak Faisal kembali mengajukan pertanyaan yang sama pada Indah. “Indah..., Indah sayang sama Ayah?” . “Tentu dong yah, Indah sayaaang sama ayah, sama umi juga… emang kenapa…?”. “Kalo Indah sayang sama Ayah..., Kalungnya buat Ayah ya..?”. “Ya... Ayah, jangan dong yah... Ayah boleh ambil boneka beruang punya Indah, atau si bantal kingkong kesayangan Indah, tapi jangan kalung ini... Indah sayaaang banget sama kalung ini... ” ujar Indah memelas sambil matanya barkaca-kaca. “Ya udah... nggak apa-apa.. Ayah ngerti kok... Indah tidurnya yang lelap ya, tapi jangan kesiangan, bangunnya pagi pagi ya sayang...”ujar Pak Faisal, mencoba mencairkan suasana.

Esok malamnya ketika Pa Faisal masuk kamar Indah, Pa Faisal melihat Indah menangis, tangisan polos anak kecil yang cantik. Siapapun yang mendengarnya, pasti terenyuh hatinya karena Indah memang jarang nangis. Pak Faisal mendekat dan mengusap lembut rambut Indah yang tergerai panjang. Indah berbalik, hingga Pak Faisal dapat melihat raut muka Indah yang sedang menangis. Air matanya menetesi pipi-pipinya yang halus, matanya berkaca-kaca, tangannya yang mungil menggenggam erat kalung mutiaranya. Dengan terbata-bata Indah berkata, “Ayah.. Indah sayaaanng banget sama Ayah.. sama Umi juga.. Indah juga sayang sama kalung ini.. tapi Indah lebih sayang sama ayah dan Umi… jadi… kalung ini buat ayah aja..” ujar Indah disela-sela isak tangisnya.
Melihat ketulusan Indah, Pak Faisal terenyuh hatinya. Sambil tersenyum, ia berkata “Indah… Ayah sama Umi juga sayaang sama Indah, makasih Indah mau ngasih kalungnya ke Ayah. Boleh Ayah ambil kalungnya sekarang..?”. Dengan senyum yang tulus, Indah mengulurkan tangannya.. sambil tersenyum, Indah berkata “Boleh.. Indah ikhlas kok.. lagian kalung ini nggak ada apa-apanya dibandingkan kasih sayang ayah sama umi..” ujar Indah dengan tulus.

Dengan perlahan sambil menatap mata Indah, Pak Faisal mengambil kalung itu dari tangan Indah dan memasukkan kalung itu ke saku celana panjangnya. Kemudian… Pak Faisal merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dan memberikannya pada Indah. “Makasih Indah, Bapak bangga sama Indah.. sebenarnya bapak mau ngasih hadiah ini sebulan yang lalu.. tapi sepertinya sekaranglah saat yang tepat.. dibuka ya hadiahnya..” Ujar Pak Faisal, setengah berbisik. Dengan cekatan, tangan mungil Indah segera bergerak membuka kotak kecil itu, muka Indah tiba-tiba merona, berwarna merah muda, indaaahh sekali..
ternyata kotak kecil itu berisi…………………… “kalung mutiara yang asli!”.
Sahabat, sedikit renungan yang dapat kita petik dari cerita di atas, terkadang kita terlalu terikat dengan apa yang telah kita capai dan kita inginkan. Entah itu berupa kekayaan, kedudukan, pangkat, jabatan, pasangan, atau apapun. Kita selalu merasa berat untuk kehilangan benda atau orang yang sangat kita sayangi. Seperti Indah yang demikian sayangnya pada kalung mutiara imitasi-nya. Namun tahukah sahabat, seperti Pak Faisal, sesungguhnya seperti itulah Allah membimbing kita.

Terkadang Allah mencabut kedudukan kita, mengambil kekayaan kita, mengambil orang yang sangat kita sayangi, melalui kuasanya. Sebenarnya Allah sedang menunggu.. Apakah kita akan melepaskan segala kepalsuan yang melekat pada diri kita atau tidak. Sekali kita melepaskan kepalsuan yang melekat, saat itu juga, Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang asli, yang lebih bersinar, dan abadi.

Sahabat, mudah2an kita dapat mengambil sedikit pelajaran dari kisah kalung mutiara tersebut. Beberapa waktu yang lalu, saya dapat sms dari seorang sahabat di Malang. Sebuah puisi tentang kaktus dan kupu-kupu.. tolong disimak ya.. Ketika aku meminta setangkai bunga yang indah, Allah memberiku kaktus berduri. Ketika aku meminta binatang mungil nan cantik, Allah memberiku ulat berbulu. Ketika Aku meminta kebijaksanaan, Allah memberiku setumpuk masalah untuk diselesaikan. Aku sedih, protes, dan kecewa.. betapa tidak adilnya ini. Namun kemudian.. Kaktus itu berbunga, indaaah sekali, berwarna-warni. Ulat itu pun berubah menjadi kupu-kupu yang cantik, Dan ternyata, setumpuk masalah itupun dapat diselesaikan.

Itulah jalan Allah, ‘INDAH PADA WAKTUNYA”, “Allah tak memberi apa yang kita harapkan, tapi Allah memberi apa yang kita perlukan. Kadang kita sedih, marah dan kecewa. Tapi jauh diatas segalanya, Allah sedang merencanakan yang terindah buat kita”.

“Perjalanan hidup itu ibarat sebuah hari, Dini hari adalah masa dimana lembar baru tercipta, Pagi hari adalah masa kanak-kanak dimana mimpi digantungkan. Siang hari adalah masa dewasa dimana mimpi dikejar dan diraih. Senja hari adalah masa tua dimana mimpi dinikmati, sedangkan malam adalah masa untuk mengakhirinya dengan istirahat panjang.. Sahabat, semoga hidup ini sebaik perjalanan hari-harimu”.

Read More..

Mengapa Allah Merahasiakan Mati?

Mati pasti akan terjadi dan dihadapi oleh yang hidup. Hanya saja tidak akan pernah dapat mati itu ditentukan. Mematikan adalah hak absolut yang dimiliki oleh Yang Menghidupkan. Mengapa Allah merahasiakannya?

1. Agar kita tidak CINTA DUNIA. Agar kita tidak cinta pada sesuatu yang PASTI TIADA. Jangan sampai ada mahluk, benda, jabatan yang menjadi penghalang kita dari Allah, karena sesuatu mahluk, benda, jabatan pasti akan diambil oleh yang menitipkannya





2. Supaya kita tidak menunda AMAL. Kita tidak pernah tahu akan mati. Detik selanjutnya dari setelah engkau membaca ini atau satu jam lagi, satu hari lagi, minggu depan, bulan depan atau tahun depan, semua dirahasikan Tuhan agar kita tidak menunda semua perbuatan baik yang akan kita lakukan, tobat yang kita lakukan,
maaf yang kita ucapkan.

3. Mencegah Maksiat. Orang akan wafat sesuai dengan kebiasaannya.
Ingat sinetron Rahasia Illahi, kan? Jadi …. Ga mau kan kita mati ketika sedang berbuat dosa??? pasti semua orang ingin kembali dalam khusnul khotimah

4. Agar menjadi orang yang cerdas. Karena hanya orang yang cerdas yang tahu bagaimana mempersiapkan mati. Yaitu dengan merubah apa yang fana ini menjadi sesuatu yang kekal. Misalnya, gaji kita yg fana, gimana caranya bisa jadi kekal? nomor satu, tabungan akhiratnya harus dilaksanakan! Untuk investasi masa depan kita

Taushiyah Lainnya (Dalam usaha Persiapan Akhirat)
a. Orang yang mampu, tapi tidak mau naik haji, matinya tidak dalam islam;
b. Menunda tidak bisa sempurnakan amal, karena tiap waktu sudah ada takdirnya masing-masing.
c. Jangan memderita memikirkan yang sudah tiada, karena yakinlah Allah Maha Tahu segala kebutuhan kita, dan Allah Maha Mencukupi.
d. Rahasia amal, adalah niat dari amalan itu. alangkah ruginya manusia yang pontang-panting mengejar sesuatu yang tidak jelas niatnya.

Semoga Bermanfaat

Read More..